SELAMAT DATANG DI SUMENEP INTERVISI MELANGKAH UNTUK MAJU

Sejahtera dengan Migas: Bojonegoro Bisa, Kenapa Sumenep Tidak


Kabupaten Sumenep memilki potensi Minyak dan Gas (Migas) yang sangat melimpah. Dan hal ini tentu belum banyak diketahui masyarakat luas.
Secara faktual hingga saat ini Sumenep menjadi pensuplai kebutuhan Gas sebesar melalui pipa bawah laut ke Kawasan Industri Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik dan lainnya. Gas ke Jawa Timur itu, disuplai dari Gas Pegerungan yang terletak di Pulau Sapeken (Sumenep) dan Gas Blok Maleo I yang terletak di Perairan Selatan Pulau Giligenting (Sumenep).

Potensi Migas Sumenep, tentu saja tidak hanya yang ada di Pagerungan atau di Maleo. Setidaknya, berdasarkan catatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sumenep, daerah potensial migas itu tersebar di Kecamatan Bluto sebanyak 11 desa, Lenteng 8 desa, Guluk guluk 12 desa dan Pragaan 16 desa. (TEMPO Interaktif, 31/01/2010). Bahkan sejak tahun 90-an silam, ada dugaan, ladang Migas di Madura khususnya di Sumenep itu banyak terhampar dari daratan hingga lautan.
Dalam arti, kalau Sumenep mau mensejahterakan rakyatnya saat ini, salah satunya bisa dengan memaksimalkan potensi Migas di Sumenep. Dengan kata lain dibawah Pulau Sumenep yang bertebaran itu terhampar ladang Migas yang jumlahnya bisa mencapai miliaran kaki kubik.
Sebagai contoh kesejahteraan melalui migas telah bisa dibuktikan oleh Kabupaten Bojonegoro. Sebelum Pemda Bojonegoro menguasai 4,6% saham Mobil Cepu Ltd. (MCL), daerah ditetapkan sebagai Kabupaten termiskin kedua di Jatim dengan PAD Rp.640 miliar per tahun. Setelah MCL beroperasi, kabupaten ini sontak menjadi daerah terkaya kedua setelah Kutai Kertanegara (Rp. 2,7 trilliun) dengan PAD Rp. 2 triliun. (Jaringan Advokasi Tambang-JATAM 07/08/09)
Anehnya di kabupaten Sumenep, kalau betul apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sumenep, Sangkono Sidik bahwa, baru dua dari 12 blok minyak bumi dan gas di wilayah kepulauan Sumenep yang dieksplorasi. Bahkan beliau masih menawarkan 10 blok lagi untuk dieksplorasi (Tempo Interaktif, 19/8/2009).
Menjadi aneh bagi pandangan orang awam, kenapa Kabupaten Sumenep PAD-nya sampai saat ini masih dibawah 1 trilyun. Sungguh aneh bin ajaib kalau dibandingkan dengan kabupaten Bojonegoro, yang hanya menguasai 4,6% saham Mobil Cepu Ltd. (MCL) mampu ningkatkan PAD nya sekitar 1 Trilyun 360 Milyar.
Kalaupun bagi hasil migas itu ditentukan oleh Pemerintah Pusat, di era otonomi ini jelas memungkinkan bagi Pemerintah Sumenep untuk melakukan terobosan- terobosan guna meningkatkan PAD khususnya dari migas sebagaimana yang dilakukan Bojonegoro. Bahkan sampai saat ini public Sumenep tidak tahu berapa sebenarnya produksi migas yang ada di Sumenep, seharusnya masyarakat Sumenep memiliki hak untuk tahu.
Karena migas itu diambil dari dalam tanah Sumenep yang tentunya masyarakat Sumenep juga memiki hak yang proporsional dan adil dari bagi hasil migas didaeranya. Walapun Negara sebagai pihak yang menguasai keyaan alam seperti migas, tapi daerah penghasil seperti Sumenep jangan terus-menerus dibodohi dengan menutup-nutupi berapa sebenarnya produksi migas yang dihasilkan tiap tahunnya. Karena dengan diketahuinya jumlah produksi migas Sumenep, tentunya Sumenep dapat mengetahui berapa sebenarnya bagi hasil yang pantas untuk Sumenep.
Sehingga Sumenep tidak hanya sebagai daerah penghasil migas yang hanya senang apabila daerahnya selalu dieksplorasi bahkan ditawar-tawarkan untuk dieksplorasi tetapi tidak memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Apalagi bagi hasil migas yang tidak transparan.

Belajarlah ke Bojonegoro, apa Sumenep harus menunggu ladang migasnya kering?

by: Sumenep intervisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar