Bagi masyarakat kecil, uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 masih sangat berharga. Mereka sulit mengais rezeki. Tukang becak di Cirebon dan Indramayu hanya bisa meraih bersih uang Rp 20.000 sampai Rp 25.000 sehari.
Karena itu, operasi pasar Bulog ke Cirebon baru-baru ini tak mendapat tanggapan karena mereka tak mampu beli. Masyarakat terpaksa beralih dan membiasakan diri makan singkong yang harganya paling terjangkau. Sebagian lagi mengaku hanya bisa makan nasi sekali dan selebihnya ditutup dengan singkong yang harganya masih akrab di saku mereka.
Jika potret ini kemudian kita sandingkan dengan mobil baru para menteri yang harganya Rp 1,3 miliar atau gaji para petinggi yang bakal naik, atau fasilitas lainnya para pejabat tinggi kita, sangat kontras. Sudah hilangkah kepekaan kita terhadap mereka yang telah memilih kita sebagai pemimpin?
Yang terekam dari kemiskinan di pesisir utara Jawa Barat itu barulah sebagian dari fenomena kemiskinan daerah lainnya yang masih banyak lagi yang belum tersentuh media sehingga tak diketahui. Mungkin saja ada yang lebih menderita. Bahkan, jangan dikira di kota besar tak ada kemiskinan sejenis itu.
Di mana kesalahannya? Apakah rakyat, yang dalam konotasi kita masih terbelit keterbelakangan, kebodohan itu sehingga terjebak kemiskinan? Karena problema tadi, mereka kemudian tak bisa mengisi kesempatan kerja yang membutuhkan keahlian. Tapi, apakah bukan karena kesalahan arah pembangunan yang dilakukan pemerintahan sejak ujung tombak terbawah: RT/RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga pusat yang tak menyentuh mereka?
Jika mereka tak tersentuh pembangunan karena persoalan tadi, apakah lantas kita biarkan seperti menyerah pada nasib? Malang jika mereka kini diserahkan kepada nasib, sementara menjelang Pemilu dimanjakan dan digelontor lancar Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Sangat menyedihkan jika masih ada kelaparan di tengah kekayaan. Kita ingat kisah Khalifah Umar ketika melakukan inspeksi dan melihat kelaparan rakyatnya. Meraung tangisnya dan mendalam sedihnya. Suatu malam ia disaksikan sejumlah sahabatnya asyik mengisi kantung para pengemis yang tengah tertidur pulas di tangga masjid dengan gandum, minyak, dan uang. Umar, yang telah menaklukkan Byzantium, Mesir, Persia, Palestina, begitu takutnya kepada Allah sehingga ia tidur bareng para pengemis itu. Sayang, Umar hidup lebih dari 1.400 tahun lalu sehingga seperti tak menarik ditiru. Duta Masyarakat, 08 Februari 2010
by: Sumenep Intervisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar