SELAMAT DATANG DI SUMENEP INTERVISI MELANGKAH UNTUK MAJU

CABUB SUMENEP SIBUK CARI KENDARAAN POLITIK

Perbincangan yang ramai belakangan ini, topiknya di dominasi soal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati Sumenep 2010. Entah di rumah, warung, pasar, hingga di jalan-jalan, Pilkada Sumenep menjadi pergunjingan banyak orang. Di media massa juga mulai sibuk menggelar polling.

Sementara di kubuh partai politik, lihat saja PKB sudah membuka konvensi, meski partai ini secara politik sebagai satu-satunya partai di kabupaten Sumenep yang bisa menjadi partai pengusung tanpa koalisi, namun kelihatannya tengah pusing mencari calon wakil Bupati. Apalagi sebelumnya PDIP sudah gembar-gembor di media tetap akan berkoalisi dengan PKB. Namun  ujung-ujungnya koalisi dapat dipastikan gagal dengan segala macam alasan.

Langkah mengejutkan, kubu PDIP yang awalnya memang getol mau berkoalisi dengan PKB untuk mengusung M-2 (wakil bupati) ternyata acrobat politik PDIP juga ketahuan. Diluar predisksi PKB akhirnya PDIP maju sendiri bersama dengan Hanura dengan alasan calon PKB belum jelas rekomnya dari DPP.

PPP, juga telah membuka pendaftaran untuk bursa calon bupati dan wakil bupati Sumenep. Pasar politik PPP di Pilkada Sumenep kali ini, selain diramaikan kader PPP sendiri, calon dari luar yang berminat menjadikan PPP sebagai sebagai kendaraan politik, juga diakomodir. Tapi untuk sementara mereka menunggu rekom dari DPP-nya dan juga belum diketahui secara pasti Partai Koalisinya. Sebab PPP masih memerlukan koalisi untuk mengusung calon sendiri karena kursi di legislative belum memenuhi syarat.

PAN, kelihatannya juga telah menetapkan kadernya sebagai calon M-1 (bupati) tapi kasususnya sama dengan PPP. Dimana PAN juga membutuhkan partai koalisi.

Kubu lain yang tak kalah sengit, yakni dari Partai kecil di parlemen yang dalam perhitungan suara apabila digabungkan, partai kecil di parlemen ini bisa mengusung calon sendiri. Dianaaranya PBB, Golkar, PKNU, Demokrat PDP, tapi pertanyaannya, apakah mereka bisa berkoalisi?

Sebab kabar punya kabar, mereka masih saling adu kekuatan, rata-rata minta untuk menjadi pengusung M-1 ada pula yang minta dengan syarat asal bukan Kiyai seperti yang dilontarkan PKNU.

Belum lagi partai-partai non parlemen, mereka juga tidak kalah sengitnya seperti yang lain. Penjajakan koalisi sudadah dilakukan, tinggal menunggu 1 koalisi saja dari partai parlemen untuk mencukupi syarat agar mereka dapat lolos dalam pencalonan.

Lebih hebat lagi, ada beberapa calon independen yang telah melakukan gerakan bawah tanah dengan mengumpulkan KTP sebagai syarat dukungan. Mereka nampaknya lebih leluasa bergerak dengan modal minimal sekitar 34 ribu KTP mereka sudah memeliki peluang untuk lolos pada tahap pencalonan. Hanya perlu kebenaran data ketika diferivikasi oleh KPU.

Sungguh luar biasa, pernyataan-pernyataan serta dukungan terhadap para calon, kini berseliwiran di masyarakat Sumenep. Belum lagi tim sukses dan tim kampanye yang kini mulai bergerilya mencari dukungan masyarakat.

Pertanyaan menarik, bagaimana masyarakat Sumenep sendiri merespon keadaan tersebut?.

Belajar berpikir jernih, kita boleh memberikan penilaian terhadap setiap calon yang memang berniat maju dalam pemilhan bupati dan wakil bupati Sumenep kali ini.

Rekam jejak (track record) setiap kandidat sepertinya penting untuk diketahui oleh pemilih. Sebab mengetahui rekam jejak sang calon, kita-pun sudah memiliki informasi awal siapa kandidat yang kelak kita pilih, melalui penelusuran visi dan misi calon.

Sekalipun banyak kejadian, bahwa visi dan misi sekedar perencanaan diatas kertas, tapi paling tidak masyarakat dapat meminta pertanggungjawaban kepada calon jika dalam masa jabatannya tidak sesuai dengan visi dan misi. Argumentasinya, masyarakat memilih seseorang karena diyakinkan oleh visi dan misinya.

Selain itu, soal komitmen setiap calon bupati Sumenep, nampaknya ini bukan persoalan mudah. Dan kita tahu, komitmen menjadi pemimpin bagi rakyat Sumenep, sesuatu yang diperlukan. Rakyat Sumenep butuh seorang pemimpin yang mengayomi seluruh Rakyatnya. Tanpa melihat dia mendukung siapa pada waktu Pilkada.


Biarlah mereka para calon saat ini sibuk mencari kendaraan, sementara partai-partai sebagai kendaraan juga sibuk menawarkan tumpangan, kalaupun nanti juga ada calon yang naik kendaraan pribadi (independen) , itu,hal yang biasa menjelang pilkada. Masyarakat Sumenep jangan ikut sibuk, biarlah mereka yang sibuk. Karena itu wilayah mereka para cabub cawabub dan partai politik.

Tapi bagi rakyat Sumenep perlu diingat, pemilihan bupati Sumenep merupakan ajang pesta demokrasi rakyat Sumenep yang harus berlangsung dalam suasana suka cita, untuk membangun kabupaten Sumenep. Itulah sebabnya rakyat Sumenep harus cerdas memilih? by: Sumenep Intervisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer